I've been down and Im wondering why These little black clouds keep walking around with me, with me... I waste time and Id rather be high Think Ill walk me outside and buy a rainbow smile but be free, all free
So maybe tomorrow Ill find my way home So maybe tomorrow Ill find my way home
I look around at a beautifiul life I've been the upper side of down; been the inside of out but we breathe, we breathe
I wanna breeze and an open mind I wanna swim in the ocean, wanna take my time for me, all me...
So maybe tomorrow Ill find my way home So maybe tomorrow Ill find my way home
So maybe tomorrow Ill find my way home So maybe tomorrow Ill find my way home
Stereophonics – Maybe tomorrow
Terus-terusan ngeliat kebelakang dan ga pernah mau menerima segala sesuatu yang udah lewat emang really pain in the ass... maybe it's time for me to give up the thing's i've ever did, even the shitiest thing. if other people just look at my old mistake, let me be the one who's willing to look ahead.
This is my life. But given by God. Nobody can put me down. Ever. Not even myself.
hei.., kamu benar-benar tidak membukakan pintunya ya?
Mungkin kamu memang mengintip sedikit. Sesekali keluar di malam hari memberiku selimut untuk kemudian kau ambl lagi sebelum aku terjaga. Kadang kamu malah menemani aku yang kedinginan duduk di halaman rumah kita. Kita berbicara cukup serius, tapi kamu tetap tidak membiarkan aku masuk. Kamu kembali masuk ke dalam rumah dan mengunci rapat-rapat pintunya, memilih untuk tidur sendirian. Kamu memang tidak pernah menyuruhku untuk tetap menunggu di sini. Tapi mungkin kamu juga tidak pernah benar-benar mengusirku pergi? Atau hanya perasaanku saja yang berfikir begitu? Aku yang tidak ingin kamu benar-benar mengusirku pergi...
Tahukah kamu, dimalam-malam kamu membiarkan aku diluar? Aku suka terjaga dan berfikir. Rumah ini... Entah kenapa, aku selalu berfikir ini rumah kita. Tempat tidur hangat kita, meja makan kita, ruang tv kita,... aku selalu ingin pulang kesini. Karena aku pikir ini rumah kita.
Aku masih bisa memandangi pintu, jendela dan terasnya, kursi-kursinya masih sama, mungkin kamu sedikit menambah tanaman di teras kita. Lebih cantik. Kamu mengurus rumah ini dengan baik ya... Oh, betapa aku bangga sekali padamu.
Aku rapatkan badanku ke pintu, coba mendengar ke dalam. Aku tidak tahu apakah kamu tidur sendirian, berbicara sendirian, makan sendirian, atau sudah ada orang yang kadang mampir lewat pintu belakang. Kadang aku menangis sendirian setiap mendengar kamu berbicara dan tertawa-tawa di dalam rumah. Aku takut ada orang lain selain aku yang bisa membuat kamu merasakan kenyamanan itu lagi. Dan sepertinya kamu memang sudah nyaman dengan situasi ini. Kamu di dalam rumah, bisa mengintip keberadaanku sewaktu-waktu. Dan aku, yang duduk di teras rumah, tanpa bisa menebak-nebak seperti apa isi rumah kita sekarang, tapi mencoba nyaman entah sampai kapan.
Dulu, aku mengerti saat pertama kamu melarangku masuk ke dalam rumah. Kamu marah sekali karena aku pergi terlalu jauh, berlayar di laut luas yang penuh bahaya dan pulang membawa parut luka di muka. Kamu bilang mukaku sudah tidak sama seperti kemarin! Mungkin aku tampak lebih buruk dari sebelumnya. Aku coba meraba bekas luka dipipiku. Tidak terlalu dalam, tapi cukup jelas lukanya. Apa karena luka dimuka ini? Apa karena aku pergi terlalu jauh?
Kadang aku merindukan rumah kita yang dulu. Aku terlalu letih untuk bepergian lagi. Aku terlalu tua untuk berlayar lagi. Aku ingin tinggal di dalam rumah, merawat kura-kura piaraan kita, kadang memasakkan makanan kesukaan kamu, atau hanya sekedar ngobrol sampai pagi.
Aku beranjak sedikit dari tempatku biasa duduk. Berjalan sedikit menjauh dari teras rumahmu. Aku pandangi rumah ini..
Rumahmu.
Aku tersenyum. Ini bukan lagi rumah kita... Terasnya sedikit berubah, lebih cantik dari yang dulu. Tapi isi rumahnya. Aku sungguh-sungguh tidak tau. Apakah masih ada baju-baju lamaku kau simpan. Atau sudah kau jual diganti dengan baju barumu? Apakah masih ada noda saat kita bercanda dan tidak sengaja menumpahkan cat ke lantai? Apa sudah kamu tutup dengan keset kaki atau mungkin sudah kamu kerok sampai bersih? Mungkin rumah ini sudah benar-benar kamu rubah. Kamu selalu bilang, bahwa kamu selalu siap ada tidakpun aku menemanimu di teras rumah seperti ini.
Aku lihat badanku. Aku raba pipiku. Lukanya sudah tidak terlalu kelihatan. Apakah mungkin kali ini kamu akan membukakan pintunya?
Aku ketuk sekali lagi pintu rumahmu. Tidak ada suara. Aku tau kamu ada di dalam. Aku juga tau tadi pagi kamu sempat mengintip sebentar. Aku memejamkan mataku rapat-rapat, coba mendengarkan baik-baik apakah ada suara orang berjalan ke pintu dan kemudian membukanya lebar-lebar.
Satu.. dua.. tiga.. empat...
tidak ada suara orang jalan. tidak ada suara pintu yang dibuka. tidak juga ada jawaban.
Aku mencoba berbicara, tapi suaraku parau. Mungkin kamu tidak mendengarnya.
"Sayang... baiklah kalau begitu maumu. Aku rasa aku menghargai maksud kamu untuk melakukan semua ini. Aku bahagia melihatmu lebih cantik meski tanpa aku. Aku bahagia melihat rumah kita, maksudku rumah kamu... terawat dengan baik. Mungkin aku tidak akan berlama-lama lagi disini. Aku ingin punya rumah juga sayang. Meski tidak sama dengan rumah ini, tapi mungkin tempat tidurnya hangat. Ada meja makan yang akan berisi hidangan kesukaanku juga. Aku terlalu letih dan tua untuk menghabiskan sisa waktuku di teras ini. Terima kasih sudah membiarkan aku duduk disini cukup lama. Kamu bisa saja melepaskan kalajengking atau ular saat aku tertidur supaya aku kapok dan pergi dengan luka gigitan, tapi itu tidak kamu lakukan. Tapi aku tidak ingin terus menerus di teras, memandangmu dari jauh saat tirai jendelanya tersingkap. meski itu teras rumahmu. Aku ingin rumah... Aku sedih kamu tidak pernah membiarkan aku masuk, tapi kalau kamu punya niatan baik untuk diri kamu atas semua itu, aku rela pergi. Terima kasih ya sayang. Cinta kamu yang dulu yang memberikan aku harapan untuk bertahan di teras ini. Tapi rasa-rasanya semua sudah tidak sama lagi. Jadi aku tidak ingin berdiri mematung memandang rumah orang lain...Terima kasih untuk semua pelajaran yang sudah kamu berikan kepada saya. Saya akan camkan baik-baik..."
Saya masih mematung.
Ada ojek yang lewat dan berhenti. Sepertinya dia menunggu saya, berharap bisa mengantar saya pergi kemana saya hendak pergi. Menemani saya mencari rumah mungkin... Cukup lama saya mematung. Dan cukup kesal juga tukang ojek ini menunggu saya, meski saya tidak memintanya untuk menunggu saya. Mungkin sama seperti kamu tidak pernah meminta saya untuk terus menunggu di teras ini.
Sudah banyak sekali kebohongan yang saya ucapkan. Dan saya punya satu oknum langganan yang mudah dibohongi. Menarik sekali. Ada kalanya saya merasa dia memang suka sekali dibohongi. Dan membohongi dia juga menjadi satu kenikmatan tersendiri buat saya.
.
Sampai di satu titik saya berhenti.
Benar-benar berhenti, dan akhirnya saya mencoba untuk tidak bohong lagi. Saya pikir, kenapa begitu sering saya berbohong. Terlalu banyak kebohongan yang saya ciptakan, tentunya untuk melindungi sesuatu hal. Tapi saya kehilangan apa yang sedang saya lindungi itu.
Coba... telusuri lagi...
Ibarat stiker yang biasa di tempel di kaca depan truk Antar Lintas Sumatra (biasanya gambar cewek lagi pose buka kaos setengah dada) bertuliskan 'Gadis Jujur' ... itu lah saya. (Tentu saja 'Gadis jujur'nya. Bukan cewek digambar stikernya).
Dulu, saya diajari untuk selalu jujur. Nggak boleh bohong, karena bohong itu dosa. Dosa itu masuk neraka. Masuk neraka itu disate pake tombak dibakar hidup-hidup sampai matanya keluar-keluar (thanks to whoever yang bikin buku cergam surga dan neraka...cute illustrations by the way).
Tapi di satu hari yang nggak gitu spesial dibanding hari-hari yang lain, saya berbohong.
....
Saya ingat ada sebuah pernyataan, "Setiap ada satu kebohongan, dibutuhkan kebohongan-kebohongan lain untuk menutupinya. Dan begitu seterusnya..."
Ya Tuhan!!! Saya baru saja melahirkan bayi monster kebohongan yang akan terus berakar tunas beranak pinak...??? sampai kapan..?? sampai terus menerus beranak pinak berakar tunas????!?! (panik mode : ON)
Well. May I continue? Ok. thanks.
Kebohongan itu tetap aja berlangsung terus menerus sesuai quote di atas tadi. Sampai ya itu tadi. Sampai saya memutuskan untuk berhenti.Saatnya membuat pengakuan dosa...
Saya bertemu empat mata dan mencoba berdiskusi dengan oknum yang selalu saya bohongi. Saya buka pelan-pelan lapisan kebohongan yang selama ini sudah terbentuk. Awalnya dia terlihat sangat shock. "Apa sebaiknya saya berhenti berbicara dan mengambilkannya air putih supaya dia tidak pingsan?"
tapi sudahlah... dia harus tau kebenarannya.
Lama kelamaan saya semakin payah, tentunya belum semua kebohongan terungkap. Makin bingung dan mulai sedikit amnesia... mana yang benar mana yang bohong... Sepertinya makin kedalam lapisannya makin menyatu, makin sulit dipisahkan antara kebenaran dan kebohongan.
Tapi dia malah menyuruh saya berhenti menelaah semua pemikiran itu dengan mengucapkan sebuah pernyataan paling sok tau di dunia.
Menurut dia, kebohongan adalah sebuah pembenaran.
Pembenaran? Ya. Pembenaran.
Sekarang giliran dia yang menjelaskan kepada saya. Pembenaran adalah pemikiran yang timbul dari rasa bersalah. Dan biasanya pembenaran digunakan untuk melindungi diri. Self defence. Melindungi diri dari perasaan sakit. Melindungi diri dari perasaan kecewa. Melindungi diri dari perasaan marah. You name it, semua perasaan yang tidak mengenakkan.
"Wait a minute... Are we talking about the same protecting the protection thingy...??"
Oh my God.
Tiba-tiba saya tersadar. Gara-gara prejudis saya jadi skeptis dan sinis! (wah rhyming). Jangan-jangan selama ini saya lah yang dibohongi. Bukan dia. Atau malah, kita berdua sebenarnya sudah saling membohongi satu sama lain... terus menerus, tanpa kita sadari...
Booo..yang bener ajahh???
Lalu kita berdua berdebat panjang. Lalu kita berdua terlalu lelah untuk meneruskan perdebatan. Lalu kita berdua tertidur lelap.
Lalu kita berdua bermimpi.
Waktu seperti kembali ke saat dimana saya mulai berbohong. Kenapa saya mulai berbohong? Ternyata saya berbohong karena saya percaya.
(not again...)
Saya berbohong dengan mengatakan saya percaya semua itu adalah kebenaran. Sebenarnya saya percaya semua itu adalah kebohongan. Saya percaya dengan apa yang sudah saya yakini hingga saya membuat jawaban-jawaban bohong dengan mengatakan bahwa semua yang telah kamu katakan pada saya adalah benar. Ya. Saya telah berbohong. Tapi saya juga takut kalau ternyata saya tidak benar. Dan saya seorang yang pengecut untuk berani merubah kepercayaan saya menjadi kepercayaanmu juga.
Bingung ga? Begitulah. Semenjak itu kita mulai menjalin anyaman kebohongan seperti sebuah ketupat. Sampai bingung mencari sebelah mana ujung pangkalnya. Yang mana kebohongan yang mana kebenaran. Semua berbaur dengan sangat cantiknya.
Saya terbangun.
Mencoba mengingat-ingat lagi, mengupas lagi... mencari-cari... sesuatu yang selama ini begitu saya jaga, saya lindungi... sebab dan penyebab mengapa saya harus terus-terusan berbohong...
mendadak saya mual ingin muntah...
...Ketemu. Tapi sudah hancur.
Selama ini. Semua yang saya lakukan justru membuat apa yang paling saya lindungi menjadi rusak dan hancur. Saya marah sekali, saya menemuinya dan memaki-makinya, "Kenapa kamu lakukan ini pada saya!!???" Tapi dia malah balas meneriaki saya, "Eh gila!! Kamu yang melakukan ini ke saya!"
Terus berdebat dan bertengkar. Berhari hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan.. bertahun-tahun... Tidak pernah jelas kapan perdebatan itu berakhir. Mungkin sampai ada yang mau mengalah. Mungkin sampai ada yang memecahkan cerminnya dan menampar saya, hingga saya sadar dan berhenti meneriaki diri saya sendiri di depan cermin...
Begitulah,... saya.
Saya percaya terlalu banyak kebohongan yang sudah saya alami. Saya berbohong dan berpura-pura percaya semua yang kamu katakan adalah kebenaran. Sudahlah.
Upik.. Tidur lah nak. Sudah terlalu lama kau hilir mudik disana. Tidak kah badan kau letih?
Mak, Upik tidak mau tidur sampai upik yakin betul upik sudah mengantuk. Karena upik tidak mau merusak sprei yang sudah rapih dengan badan upik yang gelisah sayang mak.. Upik pikir upik ingin menggambar Ya upik menggambar saja... Sebenarnya upik sudah capek mak Cuma upik belum mengantuk...
Pik, Kau gambar semua peta kepalamu di buku hitam itu Sudah penuh pun tetap terus kau coret Tanganmu sudah kotor Sana basuh tanganmu! Nanti kelamaan arangnya masuk kedalam kuku Makin sulit kau hilangkan…
Mak, Meski badan upik capek, tapi upik yakin pasti tidur upik nyenyak setelah upik tunggu sampai benar-benar mengantuk upik mau tidur upik sempurna mak! :)
Upikku sayang, Letakkan arang itu, lalu tutuplah bukunya. Basuh tanganmu bersih-bersih, Lalu kau pulanglah ke tempat tidurmu sekarang
baiknya kau berangkat lebih awal agar tidur nyenyakmu lebih lama kenapa kau harus tunggu sampai pagi telanjur datang? Spreinya sudah pasti dingin dan nyaman, kau tau itu kan? mak sudah letakkan selimut kalau kalau kau dingin
ayo, mak temani kau basuh tanganmu, ambil air wudlu, jangan lupa isya' sekali.. lalu tidurlah sini disamping mak...
Badanmu yang letih tak akan menunggu kantuk kau akan tertidur dan lupa kapan kau mengantuk…
lele hidup di empang makannya tokai lalu lele pindah ke ember bersamamu air.. damai dunia... aku lele terhormat...
berjanji setia semati..
eh.. mau dibawa kemana? air...? mau kemana kaw?? ah air kamu gitu..:(( jangan tinggalkan lele sendirian di embeeerr....
lele pusing.. mulai kejet-kejet tanpa air..
samar2 lele melihat tangan...
oh tangan... kasi aku air... aku butuh air...
bletak!!!!
(loh? kok jadi gelap?)
kepala lele digetok ulekan. abis itu lele dibelah2, lukanya dikasi jeruk nipis, garem, cuka.. aww!! burrr.. nyemplung! bukan ke aer tapi ke minyak panas...
yah sudahlah. lele pasrah.
---beberapa jam kemudian---
lele tampak dengan wajah baru, diatas cobek ditemenin sambel terasi lalapan dan nasi anget.
waah kelihatannya enaaakkk!
lele melihat tangan lagi. lele dimakan lahap. nyam nyam. lele masuk perut. jadi daging. ato jadi tokai? serah deh. udah jalannya gitu kali.
jadi tokai pun, lele bisa berguna buat lele-lele yang lain :P
pesan moril: - biar dulu lele makan tokai, tapi ada juga yang tetep bisa doyan pece lele. - kalo udah tau ga bisa idup lagi, mendingan mikir gimana caranya gak mati sia-sia! (halah.. serius amat lu le..)
seperti menyusun mainan UNO dan menarik batang yang paling bawah. ada yang pasrah. ada yang pergi ke orang pinter. ada yang ling lung. ada yang sedih berkepanjangan. kayaknya kepercayaan emang sesuatu yang paling mahal. dan mungkin, tidak tergantikan...
biar aja 'the moment' menjadi 'the moment' itself. yang akan mengingatkan. semakin dalam kau gali, semakin lama juga waktu menimbunnya kembali :)
Perahu saya bocor dimana-mana katamu terjun saja ke air!! tapi saya gak bisa berenang?? perahu saya makin menjauh, bergerak berlawanan dari tempatmu
satu dua tiga!!!
saya pencet hidung kuat kuat, terjun ala jagoan ke laut lepas!!! byurrrr!!!!
Saya pijak saja terus airnya sampai tersedak asin di tenggorokan.
lalu kamu lempar pelampungnya. Bukan main senangnya.
Lalu kamu kayuh dayungnya. Bukan main senangnya.
tapi kau kayuh dayungnya menjauh bukan jemput saya mendekat.
kamu tampak makin menjauh.
Terus memandangi saya, ya kamu tersenyum sih...satir. tapi tetap saja kau biarkan saya tenggelam pelan-pelan.. Mengulur tali pelampung yang panjang….ternyata benar-benar sangat panjang...
Lalu dikejauhan kau lepas simpulnya. aku ulur sampai ujung.
kadang kekuatan seseorang seperti ngga ada batasannya.
sepertinya ada sebuah ayat yang menyatakan bahwa seberat-berat cobaan dari Allah tidak akan melebihi batas kemampuan umatnya itu sendiri.
tapi saya pernah mencoba melogiskannya lagi. Nanti kalo gua tabah dan terus berjuang, cobaan gua ga ada abis-abisnya dunk... :P
capek loh jadi orang yang harus terus2an berjuang. Mungkin itu sebabnya kali ya Kartini mati muda:(
sibuk mencari2 fomula, yang sebenarnya pembenaran positif atas hal-hal negatif yang kita alami. Ujung-ujungnya, kembali pada prinsip roda berputar. Halllaahh!!:(( Saya takut bersandar lagi. Jadi coba membuat kaki sendiri jadi lebih kuat. Lucunya disaat saya pikir saya mulai kuat, kerangka itu, pondasi itu, kudu diancurin lagi. abis.
mimpi saya.
yang membuat saya bisa bertahan hidup.
yang membuat saya bisa melewati 'mati suri' dan bangun lagi menjadi manusia.
dan saya,tidak bisa apa-apa. Padahal saya punya toleransi yang sangat besar terhadap apapun. Tapi kenapa justru berbalik mendapat segala tuntutan yang bersandungan satu sama lain?
masih adakah, yang mau menerima keadaan saya, sebagaimana saya seutuhnyaaaaaaaaaa??!?!?? !?
Pernah ngga mencoba memutar rekaman di kepala seperti kaset berpita yang panjaaaaaaaaang sekali hingga bagian yang paling awal?
Saya pernah mencobanya.
Dan yang muncul selalu rekaman saya kecil sedang bersembunyi di balik piano sambil menahan kencing. Memory yang aneh.
Tapi percaya atau tidak,
pada saat saya masih kecil dan bersembunyi di balik piano sambil menahan kencing itu, saya berniat untuk mengingat kejadian itu di kepala hingga kapanpun.
Nggak tau kenapa juga alasannya. Nggak ada yang istimewa juga dengan kejadian itu.
Disana, di balik piano itu juga, saya bisa memandang kursi ukiran jati dengan kain bludru hijau bermotif yang letaknya berseberangan. Dan secara paralel kejadian itu mengingatkan saya pada kejadian yang lebih lampau, saat saya terbangun dalam keadaan duduk dan mengompol dengan sukses di kursi itu.
Iya, saya punya kebiasaan berjalan sambil tidur.
Nggak tau kenapa.
Sering sekali berjalan sambil tidur dan hinggap dimana mana, termasuk dikursi itu serta menganggapnya sebagai kloset. :( Masa kecil yang kurang oke untuk dipublish disini ya..:P
Tapi toh sejelek apapun itu, saya masih terus mengingatnya. karena saya memang berniat untuk terus mengingatnya.
And you know what? ternyata otak kita bisa diperintah untuk memilih bagian mana yang ingin terus disimpan, dan bagian lain yang dibiarkan tertutup debu dan terlupakan.
Dalam tiap kehidupan, ada rangkaian panjang dari berbagai moment di dalamnya. ada yang pahit. Sebegitu getir sampai dikubur di dasar hati hingga mati rasa. ada yang indah. Yang disimpan di laci khusus untuk bisa ditilik lagi setiap saat kita mau.
3 maret 2006, around 9pm. Lantai 28 Nikko Hotel, restoran Kahyangan, kita kubur semua yang pedih ya. Tinggal saja didasar sana, biarkan dia karam dan terlupakan. kamu gendong saya bersama kamu jalan ke depan. Kamu yang berjiwa besar. Kamu yang tercinta.
Saya ingin merawat kamu terus menerus sampai saya tua dan mati...
kenapa biru tak kunjung pudar saat pelan menghapus jejak kau gambar jejak yang sama persis dengan telapakmu saat kutimpa biru dengan merah kau duplikasi biru itu di kertasmu dan kau tunjukkan padaku biruku lagi
biru. aku harus lari. tinggal saja disana. jangan kejar lagi. dia memang sengaja ku tinggal disana. jangan kau bopong dia mengejarku. aku memang sengaja tinggal dia disana...
let them tell me that i was right not me saying, "see!!? I was right you morron!" but if they said that i was wrong me can say this to myself "What went wrong morron?!" then i can see the refflection. in me. to correct. or to deffend.
though most people choose to correct the inside but still deffend for the outside. hehehe..
saya pikir saya sudah jadi debu arang hangus dibakar kebencian kamu tapi saat kita jadi jelaga terpuruk dan dihina disana kita jadi belajar
justru bukan pada saat kita kira kita tahu kita yang benar justru pada saat kita dihina kita salah kita tersadar jadi kita terus mencari. mengoreksi.
waktu saya yang membakarmu dengan arogansi kedewasaan sudah sepantasnya waktu itu kamu ludahi saya ironisnya disanalah saya yang tidak dewasa kamulah yang dewasa
tapi tidak berhenti disana karena jika kita cukup puas kita sudah tidak lagi dewasa justru kamu yang jadi abu yang coreng muka saya dengan arangmu bahwa saya salah kamu benar tapi hati-hati absolut benar = pembenaran bumi itu tidak berujung kedewasaan tidak berujung tidak ada bentuk yang absolut hati hati dalam menggalinya
siapa saya? mencoba merubah siapa? tidak mau berkata-kata lagi. tidak boleh berkata-kata lagi.
she told me that my name might be written at the less part of the credit title. if it is true. i'm getting close to you. if it comes true, it'll be written like every dream i always dreamed about.
There is nothing more dreadful than the habit of doubt. Doubt separates people. It is a poison that disintegrates friendships and breaks up pleasant relations. It is a thorn that irritates and hurts; it is a sword that kills.
bawa saya lari dari sini bercinta hingga lupa pagi termabuk hingga lupa diri tak ingin melihat matahari
bungkus saya dengan wajahmu yang dingin menghitung helai rambutmu satu persatu tak mau pulang dan bangun
karena ini mimpi.
bawa saya lari dari sini makan nasi diatas daun seadanya tapi kita bahagia tertawa meski hanya tangan kita yang tergenggam bahagia meski kita jauh dari semua
bawa saya lari. pergi yang jauh. hidup di mimpi saja. jangan coba-coba bangunkan lagi.
waktu manusia diberi nurani yang bisa berbisik waktu telinga hati yang hanya bisa mendengarnya Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.
jika dia dibunuh. mungkin memang sudah saatnya dia mati. ada air mata yang membasuh lukanya. ada waktu yang menemani kesendiriannya. nanti dia akan sembuh. nanti dia akan tumbuh.
Hati nurani tidak pernah berhenti berbisik. Sekuat apa kita membungkamnya. serapat apa kita tutup telinga hatinya.
aku perempuanmu sampai kapan kaumau aku mencintaimu meski kau inginkan matiku
sayangnya bukan aku yang memutar waktu...
they said, the time is right when the time is right ...
Summer has come and passed The innocent can never last wake me up when september ends
like my fathers come to pass seven years has gone so fast wake me up when september ends
here comes the rain again falling from the stars drenched in my pain again becoming who we are
as my memory rests but never forgets what I lost wake me up when september ends
summer has come and passed the innocent can never last wake me up when september ends
ring out the bells again like we did when spring began wake me up when september ends
here comes the rain again falling from the stars drenched in my pain again becoming who we are
as my memory rests but never forgets what I lost wake me up when september ends
Summer has come and passed The innocent can never last wake me up when september ends
like my father's come to pass twenty years has gone so fast wake me up when september ends wake me up when september ends wake me up when september ends
dulu saya punya teman, yang rumahnya kebetulan agak dekat dengan planet pluto.:? jauhnya ngajak berantem! kalau ngajak orang lain kesana dan dia tanya "kapan sampainya neehh...!!?" saya selalu jawab,
"Nanti, kalau sudah mulai bosan dan putus asa, nah berarti rumahnya sudah dekat...!"
hehehe...
tiba-tiba saya teringat perkataan itu lagi. kalau sudah mulai bosan dan putus asa, berarti tujuannya sudah dekat...
apa emang iya, waktu pikiran kita putus asa dan memutuskan untuk menyerah, apa ternyata yang kita tuju sebenarnya sudah hampir dekat?
aku terbanting-banting dalam tunggangan dibelakang kusir terantuk kayu yang patah aku terlempar dari kereta ditinggal sendiri dan aku terluka
aku lihat kereta itu menjauh mengecil hilang seperti abu
dan hari mendadak jadi lebih gelap
aku tak tahu dimana...
masih seberapa jauh lagi terus kedepan? masih kuatkan luka menopang badan berjalan? atau aku pulang saja?
dan jika saya meringkuk sakit di tengah malam sendirian yang terpikir adalah: besok harus ke dokter. kalau dulu akan muncul perasaan malas karena sekedar tidak suka ke dokter, sekarang perasaan malas itu masi tetap ada, plus embel-embel membayangkan berapa besarnya biaya berobat. Bukan rahasia, rata-rata rumah sakit bagus di jakarta bisa mematok minimal duaratus limapuluh ribu sampai satu jutaan jika diperlukan sebuah tes laboratorium atas penyakit tersebut. Itu untuk kunjungan awal saja. Jadi wajar, ketika kakak saya yang dokter menuduh saya tipus maka yang jadi reaksi saya adalah: mules. Mules membayangkan berapa yang harus saya keluarkan untuk penyakit anak kos itu. Mahalnya harga sebuah kesehatan itu benar secara harafiah. Apalagi untuk seorang single parent beranak satu yang tidak bekerja dibawah sebuah perusahaan yang paling tidak masih bisa memberi 75% coverage jaminan kesehatan. Pertanyaan sederhana seorang kasir rumah sakit, "kwitansinya atas nama siapa bu?" kadang bisa membuat hati mendadak sensitif ibarat pantat bayi. Bagaimana kalau atas nama Robert David Chaniago saja. Siapapun yang ditulis disana tidak akan membuat uang itu kembali bukan? Sekali lagi terbayang betapa besarnya 'harga' yang harus dibayar untuk sebuah keputusan berani berasaskan cita-cita tinggi namun dilandasi keadaan yang ringkih rapuh dan licin tak seimbang.
Jadi kalau saya masih disini, duduk di depan komputer sementara seharusnya saya sudah memanggil taksi dan bergerak sendiri untuk berobat,
duh beras. antara kebutuhan sekarang sama keinginan di masa depan. benci aku. sebel aku. ngga capek apa dilema terus. anak abege aja udah pada nemuin jati diri mereka, sementara gue yang tuwir dan beranak ini masi aja morat-marit hidup dan pemikirannya. susah ya memastikan sebuah kompromi yang paling adil, paling presisi jadi semua dapet kompensasi yang seimbang. paling benci kalo udah denger istilah keinginan, kebutuhan, dan kenyataan. Mau dipikirin sampe ketombean dilembah gunung kawi sambil puasa tiap rabu legi selama 13 hari juga tetep aja ngga jelas. Namanya juga mimpi neng, kalo mimpi gampang diraih semua juga tinggal merem. (Belagu lu! Sok ngajarin.) Suka liat orang2 yang sekarang udah pada berhasil. Ngga dikit juga yang caranya tikung sana tikung sini, tusuk sana slengkat sini, sedangkan gue baru nongol senyam senyum aja udah dijutekin sama owner... boro-boro nikung. Emang ada tulisan "torture me, please.." di muka gue? hehehe yah suka geli juga siy kalo liat orang dengan karakteristik jutek yang melebihi rata-rata. Mungkin waktu kecil dia pernah diperkosa sama pelaut-pelaut korea yang kebetulan merapat di dekat club karaoke milik pamannya. entahlah :( anyway...intinya beras 5 kilo aja jadi berasa belinya kalo penghasilan idup lagi ngga jelas. sementara anak ngiler pingin sekolah di cikal yang biayanya cukup lumayan buat seorang single parent dengan cita-cita tinggi namun pekerjaan tidak tetap ini. Hidup oh hidup. Ada yang mengusulkan jalan pintas untuk mencari seorang saudagar kaya pengusaha minyak atau si kokoh agen beras dan elpiji yang tampak makmur sebagai sandaran hidup. Sebuah usul yang biadab. Gini-gini termasuk konservatif untuk urusan cinta. Ngga bisa disamain urusan cinta dan makan. Meskipun pacaran jg butuh duit buat makan, tapi jangan sampe gara2 urusan makan jadi ngebeli cinta!! (ayy matteee!)(_<) > (jadi intinya apa ya?) intinya kalo punya mimpi mungkin kudu kira2. Jarak tempuh dikalikan biaya perjalanan dibagi resiko dan kemungkinan terjadinya kegagalan dijalan. Orang hamil aja bayinya bisa meninggal di usia kandungan 8 bulan, gimana ga ngenes tuh rasanya... hmmmhh... Dulu saya berani ambil resiko pindah ke tempat kerja dengan gaji setengah dari apa yang sedang saya dapatkan, demi mengejar cita-cita yang lebih tinggi. Dan waktu itu saya berhasil. Mendadak penghasilan saya berlipat2 setelah sempat sengsara. Teori kodok melompat yang perlu merendahkan badannya dulu untuk mencapai posisi yg lebih tinggi menjadi motto dalam hidup saat itu. Tapi itu dulu, waktu saya masih seorang perempuan muda dengan mimpi dan tekat bak bonek yang rela mencegat kereta api demi nonton bola di jakarta. Tanpa ada tanggung jawab dibelakang saya. Kalo gagal, makan sendal ya makan sendal deh sendirian. Tapi sekarang? Susu Promise Gold yang 800mg harganya 125 ribu bow! Butuh empat kaleng dalam sebulan. Mana bisa anak saya dikasih makan sendal. Jadi memang, seorang yang sudah berkeluarga kadar taking risk dalam hidupnya jadi banyak berkurang. Mungkin sekali lagi memang harus bisa memilah2, apa yang terpenting dari hidup. Untuk saya sekarang ini, yang terpenting sudah tentu anak. Dan pacarku tersayang. hehehe. Yah dimana-mana, hidup harus berjuang. Sedih itu biasa. Rasa ingin menikam dengan belati karatan itu juga biasa. Pinter2 menelan ego dan gengsi, meskipun itu teramat sangaaaat sulit.
Dan akhirnya sekarang saya mulai coba menjual ego dan mimpi perlahan-lahan. Yah. Untuk ditukar dengan beras, susu promise gold dan gaji babysitter... Oh dear, why live never been so easy to me
It’s always been even. A pair. You gave my left a right to work things together You also gave a good beside the bad to kept everything balance. So, no matter what I do to keep the happiness, Sadness will always come follow. And it also works for the opposites. You gave us sadness so we can always remember and be thankful for the happiness. And you gave us happiness for the hope to get through our sadness. That’ll work to make it perfect. Some might have said that human is a perfect creature. I think it’s perfect because we sure do some bad things and good things both. I thought that wrong wasn’t always wrong. And things that we assume right, can ever be wrong. I live my life with all the bittersweets. I kept thinking to make it worth to live. Though I found that it always worth.
semua hasrat keinginan saya soal segala mimpi juga semangat edan membara kemarin sudah padam. thanks to something called vertigo bahkan namanyapun sama seperti judul film di suruh periksa lab juga yang diperiksa T3 sebenernya nama lain dari triiodothyronine yang diproduksi kelenjar thyroid tapi kenapa Arnold schwazenegger yang ada di kepala saya? lalu saya dipaksa untuk periksa ke dokter syaraf seperti film alien waktu tiduran di alat bernama ct-scan juga hannibal lecter waktu sabuk velcro dipasang dibadan saya yang terbungkus selimur biru kabel-kabel di EEG pun mengingatkan saya pada manusia 6 juta dolar.... keren 8) hehehe
jadi, sebeneranya vertigo pun gagal meredamnya...:wink:
sayang. aku lihat ke depan aku pikir lurus saja sudah pasti bisa tapi bisa saja belum cukup aku ingin bagus, hebat bahkan jenius! aku tau tak pernah ingin yang biasa kamu tau aku tak pernah cukup yang biasa tidak cuma sama karena sama kita tenggelam karena sama kita terlupa aku ingin yang beda yang gila pun tak apa beda itu cantik beda itu belok sementara yang lain lurus beda itu lompat sementara yang lain suruh diam ditempat kamu pernah bilang orang hebat itu sakit dibilang sakit karena dia merah sementara yang lain hitam saya ingin jadi merah saya bisa jadi merah
juga kamu. saya ingin kamu jadi obornya bikin saya hangat bikin jadi terang bakar saya jadi merah guyur saya jadi merah
lalu saya peluk kamu kuat-kuat. kita, tenggelam terhisap ke dalamnya .
Welcome to the real world honey! World without any perfection. Isn’t that lovely...
No perfection.
It’s not an excuse, it’s real. Nothing is perfect like they said. So, why bother to be like one. Why bother to make one. Don’t try to justify anything. Justice itself was never been perfectly fair. So why bother... It’s a cruel fighting game. Never try to change the arena, cause it’s useless. Heal yourself quickly, learn by your mistake. Just put your gloves on and move your bruising face back into this unpredictable field and fight. You’ll still gonna hit by other awful smacks on your face, Shit will still always happen honey... But at least you wont hit at the same place over and over again. Cause it sucks, isn’t it? But if it’s still, just make sure you ain’t did that on purpose. Cause it’s stupid, isn’t it? Oh you know that already? :P So? Why bother honey… why bother. Life is always gonna be like that. Sometimes sucks, sometimes not. All we can predict is just – it will always unpredictable. So, what are you waiting for?
paling enak jagain lapangan orang ya. kalo bolanya keluar garis, waahh.. teriak kenceng banget! kalo bolanya fault, sekali lagi.. teriaaakkk kenceng! hmmh... enaknya...
tapi kalo urusan perasaan, paling enak jaga perasaan sendiri. pasang border, alarm... nggak boleh begini, begitu, ini, anu...
I need another value other than my routinity. I need a 'home', a beach for a water to land hopes. To ease my mind. I was there for a few minutes back in thitoz. Take care on ur back. Lemme know as u reach home. Luv y'all gigitimun!
for having it already while I'm still here waiting haven't feel anything
but doing nothing.
....
And I feel just like I'm living someone else's life It's like I just stepped outside When everything was going right And I know just why you could not come along with me
...
And I'm surrounded by A million people I Still feel alone Oh, let go home...
Oh, I miss you, you know ... My words were cold and flat And you deserve more than that
It might not be the right time I might not be the right one but there's something about us I want to say cause there's something between us anyway...
I might not be the right one it might not be the right time but there's something about us I've got to do some kind of secret I will share with you...
I need you more than anything in my life. I want you more than anything in my life. I'll miss you more than anyone in my life. I love you more than anyone in my life.
it always gonna be like that. muda jadi tua. kencang jadi keriput. jadi, semua akan memudar. seperti manusia makan untuk bertahan hidup. seperti manusia bernafas untuk hidup juga. padahal kita tahu pasti. manusia tetap akan mati. seberapa sehat makanan yang dimakan. seberapa banyak tarikan nafas setiap detiknya.
Dihadapanku Didepanku Banyak permen coklat es krim yang manis Banyak tawa lukisan indah terpajang Banyak genggaman rangkulan terasa bersahabat Entah nyata entah maya
Diberpalingku Dipunggungku Disetiap tidur dan lenyapku Ada getir pahit dan ular berbisa yang menggigit Ada bunyi tajam dan wajah buruk kebencian Ada genggaman pisau siap menoreh luka sampai menganga lebih nyata, lebih jujur, namun pedih memang adanya
selamanya, selalu akan ada dua sisi
muka belakang jujur bohong manis pahit maya nyata ...
Una palabra no dice nada y al mismo tiempo lo esconde todo igual que el viento que esconde el agua como las flores que esconde el lodo
Una mirada no dice nada y al mismo tiempo lo dice todo como la lluvia sobre tu cara o el viejo mapa de algún tesoro
Una verdad no dice nada y al mismo tiempo lo esconde todo como una hoguera que no se apaga como una piedra que nace polvo
Si un día me faltas no seré nada y al mismo tiempo lo seré todo porque en tus ojos están mis alas y está la orilla donde me ahogo, porque en tus ojos están mis alas y está la orilla donde me ahogo.
A word does not say anything And at the same time it hides everything Just as the wind that hides the water Like the flowers that mud hides
A glance does not say anything And at the same time it says everything Like rain on your face Or an old treasure map
A truth does not say anything And at the same time it hides everything Like a bonfire that does not go out Like a stone that is born dust
If one day you need me, I will be nothing And at the same time I will be everything Because in your eyes are my wings And the shore where I drown, Because in your eyes are my wings And the shore where I drown.
Drink up baby down Are you in or are you out? Leave your things behind 'Cause it's all going off without you Excuse me too busy you're writing a tragedy These mess-ups You bubble-wrap When you've no idea what you're like
So, let go Jump in Oh well, what you waiting for? It's all right 'Cause there's beauty in the breakdown So, let go Just get in Oh, it's so amazing here It's all right 'Cause there's beauty in the breakdown
It gains the more it gives And then advances with the form So, honey, back for more Can't you see that all the stuff's essential? Such boundless pleasure We've no time for later Now you can wait You roll your eyes We've twenty seconds to comply
So, let go Jump in Oh well, what you waiting for? It's al right 'Cause there's beauty in the breakdown So, let go Just get in Oh, it's so amazing here It's all right 'Cause there's beauty in the breakdown
Di saat keputusan berpihak sebelah, saya harus bertahan di kesendirian sambil menanamkan lagi itu gengsi untuk kekuatan, sebuah penolakan untuk menjadi rapuh karena perasaan ditinggal.
Saya kangen kamu kupret! Tapi yah.. makann tuh gengsi!
Cuma berani sms Dita…
Si bodoh: I need a hug…:cry: Dita: Cini-cini ta’ peluk… Si bodoh: hehe, tadinya mau dikirim ke dia Dit… tiba-tiba uuwhh!! Gengsi! Ke elu aja deh..hehehe Dita: Waa.. kalo dikirim ke dia kau jilat itu gengsi! 8) Si bodoh: iyah… tapi kadang gengsi itu dijilat enak…nyamm..”
…
Dan jika kemudian gengsi itu datang menghampiri saya ke tempat kerja, memeluk saya erat-erat seolah habis menemukan lagi saya yang kemarin hanyut di sungai, saya langsung kendor…
Dan habis itu, saya benar-benar jadi karet…
Saya belum pernah berpelukan di supermarket. Saya belum pernah begitu nggak pedulinya dengan onesan-onesan yang seliweran dengan troli mereka, bahkan mbak-mbak kasir yang memperhatikan. Mereka semua seperti figuran yang tidak dibayar, hanya diiming-imingin janji masuk TV.
Sebuah pengakuan yang rasanya terdengar tulus. Seperti sebuah proposal sederhana. Persis di depan kerdus-kerdus mainan Jepang, dengan tangan kiri saya yang masih tetap memegang troli. Kamu memeluk saya. Lagi. Lebih kuat. Lebih dalam. Membenamkan mukamu di punggung saya. Sambil membisikkan kalimat yang tidak terputus, sederhana, tapi sampai ke tulang-tulang. Dan seperti biasanya, keahlian saya yang cukup membanggakan. –Menjadi Batu- dengan pandangan freeze pada mainan permen berbentuk tamborine. (Tapi setidaknya lebih baik daripada reaksi yang biasanya) Saya menjawabnya dengan perbuatan yang setara dengan kata-kata Dorothy kepada Jerry McGuire, “Shut up… you had me at hello…You had me, at hello...” :wink:
That was the best scene of my life. With the worst soundtrack ever!
(Ok, you do the math: When a Man Loves a Woman-nya Michael Bolton tapi yang versi instrumentalia pake saxophone pula, out and loud persis setelah itu. Buhuhuww.. Nice taste Mr. Papaya Deejay!)
Hmm.. kalo ngga corny nggak kita… hehehe begitu kata kamu.
Ok. I can live with that…
Lalu besoknya sms ke Dita lagi, Ya ya... sebut saya bodoh. Saya jilat itu gengsi. Rasanya benar benar manis... dan Dita menjawab dengan wise, No it’s not stupid. It’s nice to have someone who love you that much…
Nothing can beat the feeling of being love by someone you love…
Saya nggak ngerti artinya apa. Then she tells me the story about “Crystal Vase". About some guy with his precious spouse…
“Kamu adalah vas kristal yang sangat cantik dan mahal. Aku nggak mau kamu tergores atau pecah. You’re mine. I will keep you. You are the best to save for last. But in the meantime, yeah… Y'know… I still wanna play around, Let me play with these cheap vases, I won’t mind if it’s gonna broke or scratch.”
Bastard!:x
Yup San… you bet we’ve met that kinda guy… :lol:
Dan akhirnya ini membuat saya semakin nggak ngerti,
"Then, what’s the use of being good, being great or even perfect?
too many things i have to sacrifice for this massive dream: become a film director.
not many female directors around... for some reasons I know why.
and a tiny little tears called emotional could become a gigantic obstacle.
Yesterday my boss asked me, "Do you really wanna become a director? Are you serious with this profession?" ... off course i do. I really love this job, but so many things buggering my head, my mind...
Okay. I know you had so many problems inside your head right now. But you can't hide in your shell all the time. You have to dare to come out. You still have to work, otherwise you'll keep thinking about your problem. It's not healthy at all. Honestly, you had a big-big talent to become a director. You had a great taste, you had a great sense, you had the talents that director's might need. All you have to learn right now is just the technique, and that's so easy to learn. I can be a director quite fast because I follow every role, I wanna know every step, then I know everything. But you don't have to work exactly like i do. I work like a dog because I'm a workaholic. When you become a director, you can do just one job every month. I'm sure the money is quite enough. Then you can spend more time with your son. When you've become a director, your son will be quite bigger than now. So there won't be a problem for you to become a director. Now, I think you don't have to come to every shoot. You can also find some references at home. You can spend more time with your kid, but you still have to come out from your shell!
But.. i don't think that's fair for everybody else.
Hey... I'm the one who pay you, remember. Not gama, not shinto, not rina, so fuck off. You don't have to listen to every people said. You don't have to work as hard as them. Just do, whatever you have to do.
...
"Listen, I'd prefer to have 40 percents of your time, but you are there for me, rather than having 95 percents of yours, but you're not really there at all!"
...
tiny little chat. tiny little solidarity, tiny little understanding... (off course I wouldn't be such a spoiled brat like that, but it just, somehow... lighten?)
you don't have to ask me so many, just show me your understanding, and I'll undoubtedly treat you the same, or even more, and do my best not letting you down.
...dan dia memberi saya sebuah buku. Judulnya THE WIST LIST. ada 6000 ide untuk sebuah keinginan di dalam buku setebal 421 halaman. Sangat tepat untuk seorang yang tidak pernah bisa lepas dari mimpi dan keinginannya. mungkin banyak yang susah untuk diwujudkan, seperti "Memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian" atau terlebih lagi ""Memelihara Jenggot". Tapi memang bukan itu intinya. Ada banyak hal yang bisa dilakukan dan dilihat di dunia ini. Persis seperti apa yang ada di kepala saya. Mungkin itu juga yang menyebabkan tangan kiri saya berlomba dengan yang kanan. Mungkin saya harus membuat wish list saya sendiri? (meskipun memang pernah dibikin, dan ternyata memang bisa jadi kenyataan...)
...
Saya kepingin punya rumah yang saya sket sendiri arsitekturnya, saya desain sendiri eksteriornya, saya awasi sendiri pembangunannya, saya desain sendiri perabotnya, saya pilih sendiri tanamannya, dan saya huni dengan orang-orang yang sangat saya cintai. saya kepingin anak saya jadi pemain bola profesional, saya ingin memasukkannya ke klub bola profesional di eropa saat umurnya sudah cukup, suatu saat nanti saya akan terbang ke sana untuk menyaksikan langsung pertandingannya. saya ingin memotret, saya ingin membuat karya foto yang bagus yang nantinya saya cetak besar besar dan saya pajang di rumah, atau mungkin bisa mengadakan pameran karya foto saya sendiri, sekarang pun saya sudah tahu apa temanya nanti. Saya ingin melukis. Saya ingin melukis di kanvas yang besaaar sekali. Mungkin saya bisa mencampur foto dan lukisan saya di dalam satu kanvas. Saya ingin menggunakan banyak warna merah. Atau warna biru yang sangaaat terang, yang memberikan perasaan bahagia yang berlebihan. Saya ingin tahun segala urusan cinematography. Saya ingin mempelajari kamera, lensa, lighting dan semuanya, tapi saya ingin menjadi director. Film. Saya ingin membuat film dengan cinematography yang sangat bagus. Saya ingin membuat film yang sangat sedih. sangat sangat sedih tapi romantis. Film dengan akhirnya yang tidak biasa. dengan pemeran utama yang cantik. sangat sangat cantik. atau mungkin malah sebaliknya. perempuan yang teramat sangat jelek, tapi bisa membuat kita betah menontonnya, bahkan jatuh cinta kepadanya. setelah itu saya ingin pergi menyepi bersama orang yang sangat saya cintai dan tentunya juga sangat mencintai saya, menyendiri dan melakukan apa saja yang kita inginkan. jauh dari keramaian. tinggal di tempat yang tenang. tidak pelu diburu oleh apapun. lalu saya ingin menulis. menulis tentang kebahagiaan. tentang kepedihan. tentang hidup yang tragis. tentang mimpi yang belum terwujud. saya juga ingin pergi ke tempat yang sangat ramai dan modern. yang hiruk pikuk dengan segala teknologi dan fasilitas yang modern. saya ingin pergi ke jepang. ke tokyo. tinggal di sana dengan uang yang sangat banyak sehingga saya bisa melakukan apa saja. saya juga ingin keliling dunia. bisa memainkan banyak alat musik yang tidak biasa, bisa berbicara dengan banyak bahasa yang jarang orang bisa. Saya ingin membuat buku berisikan semua keinginan yang akhirnya terwujud menjadi sesuatu yang nyata. tulisan, lukisan, foto, apapun yang pernah saya buat.
saya ingin bisa semuanya. saya ingin jadi semuanya.
hai kubil.. mau kemana. mau mengejar mimpi. katanya dia bisa dikejar. sampai kapan. saya tidak tahu. lari saja terus. mungkin nanti dapat. kalau dapat bagaimana. ya sudah. dijalani saja. setelah dijalani lalu apa. lalu, saya mungkin cari lagi mimpi yang lain. lalu begitu terus. kapan berhenti. nanti kalau sudah mati rasa. apa enaknya kalo mati rasa. untuk apa hanya untuk mati rasa. mungkin bukan mimpinya. mungkin waktu kita lari. mungkin waktu kita kelelahan. mungkin waktu kita tersandung dan jatuh lalu berdarah. mungkin waktu kita tertawa. mungkin waktu kita sadar seperti ini. jadi masih tetap mengejar mimpi. mungkin hanya berlari kecil saja.
And so it is Just like you said it would be Life goes easy on me Most of the time And so it is The shorter story No love, no glory No hero in her sky
I can't take my eyes off of you I can't take my eyes off you I can't take my eyes...
And so it is Just like you said it should be We'll both forget the breeze Most of the time And so it is The colder water The blower's daughter The pupil in denial
I can't take my eyes off of you I can't take my eyes off you I can't take my eyes...
Did I say that I loathe you? Did I say that I want to Leave it all behind?
I can't take my mind off of you I can't take my mind off you I can't take my mind... My mind...my mind...
kasihan ya perempuan yang mau putih lah, yang mau kurus lah, yang mau bibirnya jadi pink lah, yang mau mukanya licin bak porselen lah, apa lagi coba... you name it!
intinya, perempuan pingin kelihatan cantik. sounds pathetic enough kalo semua itu dilakukan demi mahluk bergender laki-laki (do they have the same concern? i don't think so.) dan nggak kalah pathetic juga kalau itu dilakukan sebagai bagian dari ego perempuan supaya terlihat lebih menarik dari perempuan lain (lesbian doesn't count)
yang lebih mengerikan lagi, sekarang makin banyak wadahnya! hai kaum perempuan yang kurang percaya diri dengan apa yang kalian miliki saat ini, datanglah ke dokter eva, dokter cantik yang badannya tidak kurus, mukanya tidak terlalu licin, kulitnya juga tidak putih, dan bibirnya pun tidak pink!
loh, kok bisa?
ya sama saja seperti dukun yang bisa mengabulkan permintaan orang untuk menjadi kaya, sementara dia sendiri tinggal di gubuk kecil dekat gunung kawi
mungkin dokter eva sebenarnya lebih mengerti apa esensi "cantik" yang sebenarnya, dan menjadi kaya karena pandai memanfaatkannya (no offense, doc :wink:)
hanya dengan tersenyum, sedikit bertanya, sedikit menjawab, sambil mungkin memandang kasihan wujud pasiennya saat menceritakan segala ketidakpercayadirian mereka terhadap segala kekurangan fisiknya... and that's how she became a billionaire.
"Ok, so you're fat and ugly... perfect. I can buy more prada shoes then..."
hehehe
but still, dokter eva juga manusia, bukan salah dia menjadi kaya diatas penderitaan orang-orang jelek dan gendut, for some people, dokter eva membantu mereka mewujudkan mimpinya untuk lebih menarik .....physically. some people who think that become thin and pretty is important, some people who will blame on their physical appearence for the fate of being dumped, being lonely or being single forever...?
how sad.
but well, those people do exist though and this is also just a thought...
besides, I already make an appointment with her for the next friday... wanna join? 8)
Good morning, son. I am a bird Wearing a brown polyester shirt You want a coke? Maybe some fries? The roast beef combo's only $9.95 It's okay, you don't have to pay I've got all the change
Everybody knows it hurts to grow up And everybody does it's so weird to be back here Let me tell you what The years go on and we're still fighting it, we're still fighting it And you're so much like me I'm sorry...
Good morning, son In twenty years from now Maybe we'll both sit down and have a few beers And I can tell you 'bout today And how I picked you up and everything changed
It was pain Sunny days and rain I knew you'd feel the same things
Everybody knows it sucks to grow up And everybody does it's so weird to be back here. Let me tell you what The years go on and we're still fighting it, we're still fighting it You'll try and try and one day you'll fly Away from me
Good morning, son I am a bird It was pain Sunny days and rain I knew you'd feel the same things
Everybody knows it hurts to grow up And everybody does It's so weird to be back here. Let me tell you what The years go on and We're still fighting it, we're still fighting it Oh, we're still fighting it, we're still fighting it And you're so much like me I'm sorry...